PENTINGNYA PENGGUNAAN BAHASA YANG BAIK DAN BENAR SEBAGAI (MAHASISWA DAN GURU).
BY : SITI NURHALIZAH
NPM : 211434070
EMAIL : sitilizaaaa43@gmail.com
INSTAGRAM : stnrhlzaa19
1. PENTINGNYA PENGGUNAAN BAHASA YANG BAIK DAN BENAR SEBAGAI (MAHASISWA DAN GURU)
Bahasa merupakan alat komunikasi yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu peran besar bahasa yaitu agar semua orang bisa dengan mudah berinteraksi baik secara lisan maupun tulisan. Indonesia memilik ragam suku, agama, ras, dan bahasa. Setiap daerah memiliki bahasanya sendiri. Hampir setiap orang selalu menggunakan Bahasa Pertama atau biasa dikenal dengan istilah Bahasa Ibu. Bahasa Ibu merupakan bahasa alamiah yang pertama kali dikuasai manusai sejak lahir melalui interaksi komunikasi dengan lingkungannya. Bahasa Ibu biasanya identik dengan bahasa lokal atau bahasa daerah.
Penggunaan bahasa Indonesia dikategorikan sebagai Bahasa Kedua. Bahasa Kedua adalah bahasa yang diperoleh manusia setelah Bahasa Pertama. Ketika anak keluar dari lingkungan keluarganya, maka ia akan mengenal Bahasa Kedua. Hampir 100% orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua mereka. Hal ini dilakukan agar makhluk sosial bisa berinteraksi satu sama lain mulai dari Sabang sampai Merauke.
Penggunaan bahasa Indonesia sangat penting karena apabila melihat latar belakang kultur bangsa Indonesia yang beraneka ragam, bahasa Indonesia berperan sebagai “Bahasa Pemersatu, Bahasa Nasional, dan Bahasa Resmi”. Sehingga bahasa Indonesia wajib dipakai seluruh rakyat Indonesia. Selain sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia wajib dipakai guna melestarikan bahasa Indonesia itu sendiri dari pengaruh bahasa asing.
Penggunaan bahasa yang baik dan benar
- Sebagai Mahasiswa
Bahasa Indonesia bagi mahasiswa sangat penting bagi kehidupan sehari-hari karena kita hampir tidak terlepas dari aktivitas berbahasa dan berkomunikasi terutama di ruang lingkup perguruan tiggi atau perkuliahan yang tidak hanya berkomunikasi dengan para dosen tetapi juga dalam bersosialisasi dengan sesama teman, berdiskusi dalam berorganisasi dan juga dalam pembuatan karya tulis ilmiah dan hal tersebut juga berguna di dunia kerja yang ruang lingkupnya semakin luas tidak hanya para dosen dan teman kuliah tetapi rekan kerja dan para relasi lainnya yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Mahasiswa dituntut untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar saat berinteraksi dengan teman maupun dosen dan juga sebagai bekal dalam pembuatan karya tulis ilmiah. Saat ini penggunaan bahasa yang sering digunakan mahasiswa dalam kehidupan sehari harinya menggunakan bahasa gaul atau bahasa masa kini yang menggabungkan percakapan menggunakan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan bahasa yang disingkat-singkat.
- Sebagai Guru
Dalam profesi seorang guru pastinya sangat diperlukan pemahaman tentang aspek-aspek dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, sehingga nantinya saat melakukan pembelajaran dan berinteraksi dengan para siswa materi yang kita sampaikan dapat mudah dimengerti oleh para siswa. Namun dalam pengimplementasiannya justru terkadang kurang adanya kesadaran seorang guru untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar waktu pembelajaran.
Tidak jarang juga para guru saat melakukan pembelajaran justru menggunakan bahasa daerah disekitar lingkungan sekolah tersebut. Terkadang mereka beralasan menggunakan bahasa daerah karena memang sudah terbiasa dan agar bisa lebih dekat dengan para siswa.Meskipun kalau dilihat dari sisi keefektifan pembelajaran semua siswa paham apa yang dijelaskan oleh guru itu tidak ada masalah. Namun hal tersebut bisa menjadi kebiasaan yang kurang baik sebab saat penggunaan bahasa daerah secara terus-menerus dapat menyebabkan keasingan dari bahasa Indonesia sendiri yang semestinya menjadi bahasa nasional dan persatuan dari bangsa kita.
Dampak Positif dan Negatif Penggunaan bahasa yang baik dan benar
Dampak Positif :
- Bahasa Indonesia akan tetap lestari
Menggunakan bahasa yang baik dan benar setiap hari akan menjadi kebiasaan yang baik. Dengan begitu, bahasa akan terus lestari dan tidak akan tergerus oleh perkembangan budaya. Selain itu, bangsa Indonesia tidak akan kehilangan jati dirinya karena bahasa yang digunakan adalah bahasa nenek moyangnya.
- Meningkatkan rasa nasionalisme
Semakin kita banyak mempelajari bahasa baik dan benar semakin banyak pula kita mengenal asal-usul bahasa tersebut. Dengan begitu, kita bisa lebih mencintai bahasa Indonesia.
- Mempermudah komunikasi antar suku
Sesuai dengan isi Sumpah Pemuda butir ketiga, yaitu menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dari banyak bahasa daerah. Tanpa adanya bahasa Indonesia, jalinan komunikasi antarsuku tidak akan terjadi.
- Mencerminkan pribadi yang baik
Berbahasa yang baik dan benar memiliki tutur kata yang halus. Dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, maka akan tercermin kepribadian yang baik, sopan, dan santun.
Dampak Negatif
Dampak negatif penggunaan bahasa terhadap bahasa indonesia yaitu, dikhawatirkan tanpa sadar bahasa indonesia sedikit demi sedikit akan tergeser oleh bahasa asing. oleh karena itu, jika penggunaan bahasa asing tidak di awasi dan melampaui batas wajar maka dapat di prediksikan bahasa indonesia akan hilang, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap keutuhan Indonesia.
2. GURU ADALAH AGEN PENGGERAK
Guru adalah agen penggerak yang dituntut untuk dapat menjadi teladan, serta bisa memotivasi sehingga menguatkan kemampuan untuk memberdayakan murid. Tumbuh kembang secara holistik yaitu jalan secara cipta, rasa, dan karsa .
Guru yang berperan sebagai agent of change berupaya membentuk dan menghasilkan generasi yang potensial dan unggul dengan kompetensi professionalnya. Setiap guru perlu melakukan upaya refleksi diri untuk menilai sejauh mana kompetensi yang ia miliki diimplementasikan selama mengajar. Guru tidak akan patah semangat dan tidak mudah putus asa, tetapi terus berjuang dengan sebaik mungkin.
Jadi, guru sebagai agen pembaharu (agent of change) yang profesional yang mempengaruhi putusan inovasi terhadap peserta didik untuk meningkatkan kualitas kompetensinya melalui Pendidikan Kewarganegaraan dari aspek civic knowledge, civic skill, dan civic disposition.Pada ketiga kompetensi tersebut harus diterapkan oleh guru secara berimbang agar dapat menghasilkan generasi yang potensial, seperti beriman dan bertakwa, berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak secara demokratis. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang terencana, yaitu pembelajaran yang didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek atau peserta didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Selain itu, membentuk warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang NRI Tahun 1945.
3. PENTINGNYA PEMILIHAN MODEL ATAU TEKNIK DAN METODE YANG TEPAT DALAM PEMBELAJARAN (MEMBACA, MENULIS, MENYIMAK DAN BERBICARA DI KELAS RENDAH)
Pemilihan model atau metode yang tepat akan menciptakan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien dalam pembelajaran membaca, menulis, menyimak dan berbicara di kelas rendah karena dengan metode atau teknik yang menarik peserta didik akan lebih mudah dalam memahami apa yang diajarkan oleh guru.
Selain dari itu peserta didik juga akan lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran karena metode tersebut menjadikan penyampaian materi lebih menarik dan bagus. Oleh karena itu seorang guru perlu mengetahui metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pemilihan metode yang tepat akan menciptakan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien karena dengan metode peserta didik akan lebih mudah dalam memahami apa yang diajarkan oleh guru.
Selain dari itu peserta didik juga akan lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran karena metode tersebut menjadikan penyampaian materi lebih menarik dan bagus. Oleh karena itu seorang guru perlu mengetahui metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Berikut adalah hal-hal yang perlu guru pertimbangkan sebelum menentukan metode pembelajaran:
1. Menyesuaikan metode mengajar dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2. Menyesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan
3. Memperhatikan kondisi dari peserta didik.
4. Metode mengajar yang dipilih harus disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh guru.
5. Mempertimbangkan kondisi sekolah, kelas atau tempat belajar
6. Mempertimbangan ketersediaan sumber dan fasilitas pembelajaran yang ada.
7. Dan yang paling penting mempertimbangkan alokasi waktu dengan metode yang akan dipilih.
4. PENTINGNYA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK TINGKAT SEKOLAH DASAR
Bahasa Indonesia memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan mutu
Pentingnya pembelajaran sastra di sekolah karena ada berbagai alasan, yaitu karya sastra menjembatani suatu hubungan realita dan fiksi. Hal ini mendukung kecenderungan manusia yang menyukai realita dan fiksi. “Sebagai upaya meningkatkan mutu apresiasi sastra dan gemar membaca, setiap siswa pada jenjang SMU diwajibkan membaca lima belas buku sastra (puisi, cerpen, novel, drama, dan esai) selama tiga tahun”.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan, berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Belajar bahasa pada hakikatnya belajar komunikasi.
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995) mengatakan "Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam komunikasi, baik lisan maupun tulis." Dalam hal ini relevan dengan kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia yang bertujuan agar peserta didik mampu mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis. Kompetensi dasar dikembangkan berdasarkan tiga hal yang saling berhubungan dalam mengembangka pengetahuan siswa, memahami, dan memiliki kompetensi mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis.
